Blog Archive
links
-
-
Sistem Cluster Untuk Ibukota Negara Indonesia13 tahun yang lalu
-
Menstabilkan Sinyal Pada Modem15 tahun yang lalu
-
-
harapku15 tahun yang lalu
-
PARTNERS’ LINK 216 tahun yang lalu
-
-
-
-
adalah portal pribadi disamping sebagai wadah ekspresi diri untuk sekedar menuangkan ide, gagasan maupun gambar-gambar koleksi. Pun dirasakan menjadi inspirasi bagi para pengunjung itu arah yang diharapkan agar nanti keberartian saling "berbagi" dapat berbuah baik...
Your's
a_rauf
pint(u)(a)ku
akan tetap seperti itu
seperti cerita yang belum selesai
mereka kalah tapi tidak berdarah
hidup mati membawaku jauh
dan akhirnya serasa sulit untuk menjadi aku
semunya pendulummu biru pengganti kalbu
akan qadha dan taqdir yang terus menyisir
Tuhan, benarkah aku akan terus dalam peraduan ?
dalam buaian telapak tangannya yang palsu
karena ditiap guratannya jelas jalan hidupku
aku memang bukan nyanyian mulut baghawan
dalam kesempurnaan nada dan rima
setakut panggilan lain dari jiwaku bertalu
menunggu ajal dan akan tetap berjibaku
diantara pinta-pintu yang sempurna
tapi mungkinkah ketika satu pintu tertutup,
pinta lain akan pasti terbuka ?
apakah aku selalu melihat dan menyesali pinta
tertutup tersebut terlalu lama berjeda?
hingga tidak melihat pintu lain terbuka
serendipity
aku berlari mengejar dekat malamku untuk menutupi jauh siangmu
hingga siangku tertinggal terang seraya membuka gelap malammu
tidak ada diragaku laki-laki tidak juga ada dijiwamu perempuan
yang ditemui ada hanya cinta yang wajar dan takdir yang bergetar
bersiaplah untuk menemukan petunjukNya diperjalanan kita nanti
IX : XI
disimpang antara kepuasan nikmat syurga bagi paling takwa kita
dan dijelang kepahitan sakit neraka bagi tuna pendosa kita
ketahuilah akan sia-sia saja dengan menyangsikan balasanNya
karena kita sudah diperingatkan dengan yang menyala-nyala
dan ingatlah kilauan tidak bertemu permata bila kita kalang rata
XII
perjalananmu yang beralur bukan pengganti celakaku yang teratur
jelaslah akan terukir keridhaan Tuhan kita yang nun maha luhur
untuk sekedar berlaku benar dari kita pasti akan dapat futukhNya
lalu diterbangkannya jiwa-jiwa yang terang, yang tenang, yang menang
diusainya merah menyeka senja, diusia ufuk menyibak uzur fana
XI
saat sadarmu harus bersimpuh duduk, pasti ubunku tidak bertanduk
ditubir semua sihir pendusta mata dan disyair lingir pembual telinga
kumuntahkan bangkai penista disiraminya leburanmu suluh neraka
Tuhan.,. hanya dengan Engkau aku dan kamu menderma
dan tidak selain dengan Engkau aku dan kamu menerima
MMXI
sepasti masa akan kulantangkan semua suara pengikat janji suci
ditahunmu kentara pasti tidak seribu atau duaribu jelas kutiti
disiangi diantara perca laknat hingga terus disatukan cerca harap
diakhirnya tiba cuma kutitip pejaman mata, kutitik lingkaran hasta,
sampai-sampai kutitih seonggok bujuran semua selangka
~
aku mau,
aku tahu,
aku malu,
aku sakit,
tapi aku ragu mati terlilit
ter(ß)angkan эƒiwa
aku bicara pada satu malam yang sama
di pucuk ubun bumi menapaki jejak langit
seolah memegang kuncup bibir udumbara
tidak pernah cukup waktu tuk mekarnya
bukankah dada kita telah dilapangkan ?
wahai hidup yang tidak berpadu
musimku jatuh pada satu jalan
tidak didingin aku menggigil
bukan dipanas aku mengering
tetap saja daun itu gugur seribu satu
jangan biarkan genang ratapku terus mengambangdiriak kolam-kolam kuning yang mengaku dalam
bukankah ini sangat-sangat sederhana ?
tidak perlu mencelup batu untuk teriak eureka
semudah Pencerah dalam buir-bulir kilauNya
satu punggung ini siap berbagi perihnya cemeti
untuk sekedar meringankan bukan membebani
bersama mengusung harap lalu menyusut jarak
dan kala itu kutinggikan bagimu,
sebutan namamu …. …….
itu sapa..
embun pagiku, apa kabarmu?!. tunggu dulu…
biarkan sejenak mulut-mulut kecil ini mencicip kedip
jangan kau bersedih karena esok kan kutemuimu lagi
semilir senjaku, bagaimana keadaanmu?!, sebentar dulu…
hembuskan lagi sejuk itu tuk menghapus panasnya siangku
jangan kau termenung karena itu membuatku murung
penanda rinduku, sudahkah kau mengingatNya hari ini?!
tunainya titah dengan sumarah dan larangan sesirna sejauh
jangan mau tempelakNya menyeka nafasku berkali-ati
ingin kuceritakan semua kerinduan ini kepadamu seperti kemarin
ingin kukabarkan semua jalan panjang hari-hariku itu kepadamuingin kusuarakan semua penat pikiranku bagaimana menemukanmu
bintang malamku, jangan percaya pada peniru apalagi kabar perayu
karena dimasa matahari sepenggalan naik
aku pasti datang membuatkanmu harapan
agar nanti malam tidurmu tidak dihiasi mimpi-mimpi kelam
dan sesudahNya aku tidak akan meninggalkanmu tidak juga membencimu
jambangan jiwaku yakinilah bahwasanya Tuhan kita tidak sebatangkara
tuk memberi hati, tuk memberi janji
I TUWAKt U
demi masa yang terprnala muskhaf alam
aku tidak mau termasuk orang yang merugi
ditiap jengkal ada harga yang harus dibayar
walaupun berarti, tapi huthamah Tuhanku harga mati
tidak sepadan nantinya aku digantung lantas dikuliti api
atas nama rindu, sungguh aku ingin mencintamu dengan caraku
mengamini disisa perjalanan waktuku hingga kaffah tanpa qobikh
bersama mereguk serpihan sabda yang menjadi petuah semua pandita
mungkin kamu lupa disaat terakhir aku memintamu dengan sangat
berteriak mulutku mengurai huruf keduapuluh dari alfabetNya
sejarah bahasa sang pendahulu mengejamu diantara rencana dan reksi
menyelinap sebuah asa meski tertatih langkah jiwaku letih meniti
di adamu mendadak burung-burung senyap memaksaku bernyanyi
bukan menuruti angin pohon-pohon kering mengajaku menari
seakan semua ingin menghiburku saat aku disiranya langit
jika kamu melihat mata yang sengaja disayupkan seolah-olah tenang
dan senyuman yang terus dpaksa disunggingkan seakan-akan senang
ya, itu aku………
tapi jika berharap jalan menuju arahmu terus kau rentangkan
dengan hiasan lampu-lampu indah ditaman kesabaran
ya, itu waktu…………
perJuANGAN !!!
tertunduk pasti dan terpagut mati dikala bertemu labirin tua
ragu menopang ambigu dipernahi juga tiap gamang dikemudian
,,
sengajanya garis lurus ditarik tapi didapatinya berkelok elok
tidak menjadi bermakna repihan sabda di igau dan dipelihara
apa yang ditunggunya bukan kumpulan serpihan suci langit
dibiarkannya juga tiap detik yang sudah pasti akan mencekik
..
iluminasi para cenayang dijadikan dayang-dayang pencungkil dosa
seolah menjawab tantangan kaum pagan dengan rencana besar satunya
..
alhasil cuma sedikit berkelit dari apa yang diyakini benar adanya
ingatlah kesadaran itu tetap diperlukan bukan pengertian yang diabaikan
biarkan mereka bertanya dan nantinya menjadi setumpuk misteri moksa
teruslah dijelajahi setiap bentuk ranah budi dan ruang kekal bakti
..
ini perjalanan panjang yang tidak mengenal peristirahatan
tidak berguna hardikan, cemo’ohan terlebih umpatan
,,
benar memang, kita semua takut dalam bahasa yang paling sederhana
tapi harusnya terlalu biasa bertemu jalan buntu dan terus berkutat maju
tidak peduli belenggu terus menderu dan aral siap mencekal
sudah selayaknya bertempur sebelum dahi dan lutut tersungkur
..
karena luka adalah mahkota bagi kesatria
dan sebiji nyawa adalah taruhan terakhirnya
,,
dadu sudah menggelinding,,,,,,,
tinggal menunggu angka yang tertanding
mocking bird
semataku mengemis miris pada kasih bak kaum papa
rindangnya selalu terombang-ambing tembang selayang
menyembul sembab disetiap pinggiran mata kota tua
buyar suara penghibaku itu pudar tidak lagi didengar
terucap jelaspun tidak bermaksud untuk selalu dimengerti
abaikan saja itu….
jelas terbaca teriakan dari anak burung kebiru-biruan
dildahan cemara mati atau dipadang belukar panjang
seolah menanti suapan ulat-ulat kayu pahit mama
sedangkan diperiuknya hanya merebus bebatuan saja
bukannya ditanak nasi ataupun sari tepung basi
percaya padaku tidak ada lagi pemimpi yang berbudi
tapi tidak kenapa….
“ maaf aku telah membiarkanmu diawali
itu salah tulusku bukan abadinya seteru
terlalu kabur pandanganku waktu itu”
usah kau risaukan……..
ambil lagi hatiku yang biasa kau mainkan
putar dan lempar lalu ambil lagi
layaknya dipilin dan disimpul mati
teruskan saja, apapun itu….
asal senyum itu hadir lagi mewarnai
disetiap lingkar mekar penanda wajahmu
jangan kau berlari lalu berdiam diri ditepi daratan lagi,
tungkaiku lunglai menapaki
dengan begitu semoga janji akan tetap menjadi janji
lalu kekal abadi dan tidak akan pernah ternodai
pasti ada saatnya nanti kamu dipaksa mengingat ini
dan tersedak menemukanku tak kuasa ‘tuk undur diri
ber=sama dengan...titik-titik
hela nafasmu panjang-panjang saat aku berjibaku
sangsikan ancang-ancangmu saat aku keliru
redam pelan suara paraumu ketika jiwaku beradu
______________________________________
jangan gamang teman semua telah diperhitungkan
seperti ombak yang tidak pernah mengenal kesudahan
walau harus membawa seribu pesan kepada daratan
dan terus menghilang ditelan ditiap gundukan karang
_______________________________________
tak usah galau rekan dengan cerca
anggap saja itu jadi lantunan nada
berbisik apik menelisik ketelinga
ingatnya kita tetap menjaga irama
_______________________________________
jangan tanya kepadaku kapan waktunya
tapi topang aku saat tiba masanya
dengan begitu mungkin kita tahu sesuatu
hidup kita terus tertuju dari situ
________________________________________
tidak terasa banyak lukamu menjadi penghias ragaku
tak pernah kering air matamu menyirami akar jiwaku
tuna binasa kealpa'anmu menjadi kayuh semangatku
________________________________________
kamu seolah tidak mau tahu dengan yakinku yang selalu terpaku palu
menjadi pasak penyatu dari sendi-sendi tulang rusuk sebelah kiriku
mungkin ada benarnya kita tinggal menunggu waktu
..............
tidak dibukit perdu
apalagi dikain belacu
amat sangat
pekak panggilan itu dipaksa memecahkan gagahnya relung remah tersibak
lalu diam-diam ku tutup telinga
terasa benar gema asing itu bertalu diembannya pula benalu sambil bertuai ragu
lalu pelan-pelan kupejamkan mata
pekik puncak menguak dan mencekik parit dari sisi jerit segala penjuru
lalu sedikit demi sedikit kusumbat telinga
bilah menyeruak keluar timbul berseteru dengan kuat pintanya datang menagih
lalu sebentar-bentar kubelenggu hasta raga
di dasar kalbu yang langka biar sempurnakan tujuan asal muasal manusia katanya
lalu mengendap-endap kubungkam bahasa
aku diam…
aku membisu…
tapi kenapa kubiarkan kalbu terus menderu
mungkin aku hanya memang bisa hidup dari situ…
Tanya Lagi Tuhan
fhfg
aku tidak bisa mencium sama sekali sekarang
dulu jari-jemari tanganku semua terlepas
sekarang mulutku tidak bisa bersuara
nanti mungkin telingaku akan tuli
fhfg
ada lagi Tuhan ?
fhfg
sepintas terbisik bersit rasa sesal
yang dulu tidak diambil peduli
apalagi di ikuti takutnya sanksi
fhfg
mana lagi Tuhan ?
fhfg
coba kalau dulu aku ada tegak berdiri didekatmu
itu bisa saja memberimu selintas keteduhan
dan memapahmu saat kamu mulai berjalan pelan menjaga alur keseimbangan
ffhf
kapan lagi Tuhan ?
ghfg
kenapa aku tidak memberimu jelas jika itu tanda lambaian
mungkin sambut ringkih jemariku siap menyusuri
dan menuntunmu di gelapnya lembah kejam berpetaka sengsara nista kesia-siaan
fhfg
siapa lagi Tuhan ?
fhfg
andaikan dulu aku selalu memberimu saat kamu membutuhkan
pasti kamu temui aku menemanimu saat malam kamu terpejam
dan melihatku tersenyum sampai waktu kamu terjaga dicerahnya pagi benderang
fhfg
coba lagi Tuhan ?
fhfg
berkurang lagi, hilang
lagi-lagi, temaram datang menamatkan semua gumam
diwaktu memulai pagi yang berembun dini
bukan semata-mata uang segenggam setali
tidak kepada selaksa hina laksana nafsu
tapi hendak berasa arti dan bertuju diri
walaupun sudah berkali-kali dilewati ditapaki
sejenak niat terpejam biar terdengar sukma bicara
dalam rajutan harapan dan rangkaian keinginan
agar terbingkai lagi untuk kesekian kali
~12~
terima kasih atas semua pinta pendoa dan cita pencinta
ditanggal sepuluh lebih dua;
dibulan sepuluh kurang satu;
ditahun sepuluh kali satu sembilan delapan;
~09~
memang nafas cerita sudah berjalan di
tahun ketigapuluh,
bulan ketigaratus enampuluh,
hari kesepuluh ribu delapan ratus,
jam kedua ratus lima puluh sembilan ribu dua ratus,
menit kelima belas juta lima ratus lima puluh dua ribu,
detik kesembilan ratus tiga puluh tiga juta seratus dua puluh ribu,
~1980~
tapi akhir ingin tidak terhingga
sampai pada satu titik dimana
adanya duniaku benar-benar ada di akhiratMu
disesali diri
hitam tidak diperuntukan dibagi-bagi
dinisbatkan diri segalanya begitu
membiarkan kelam membelit melingkar
tertutupi dari bilah-bilah cahaya
menempel pekat disetiap saat
laku lampah dan sumpah serapah
menjadi jumawa yang terbaca mata
menyeruak kemuka
menjadi ghibah bagi mulut-mulut pencerca
diulangi lagi begitu dan bagitu seterusnya
titik balik tafakkur menurutnya terlalu udzur
tidak lebih baik terlambat untuk tahu selamat
teringat seperempat abad lebih disia-siakan
seonggok penyesalan datang sulih mengisi
menyiangi, menepi dan mengebiri
himmatul aliyah
himmatul aliyah adalah pendakian
sebuah fragmen kecil dalam bingkai metamorfosa
bersendikan keagungan
didapatinya dari segala hina
angkuh ditanggalkan dijatuhkan disembarangan
dengan ratap tetap menatap
membisu mulut ber-ibu abu
dipelintirnya juga tali dusta
seolah dibuang
lalu berkejar-kejaran ditikam berkali-kali
terus timbul tenggelam bagai seonggok kayu
menari dalam syirah samudera tuna
tidak malam tidak siang
lalu terpinggirkan ditepian
diam tenang tanpa malu seolah besila
mulai kaki jari tertancap kuat kedasar
ditariknya semua hasrat
lalu tumbuh batang beradu
dituainya sari pati
direguknya bumi wangi
disuguhkan dalam bahasa kepasrahan
hingga ditemukan arti sebuah keyakinan
di ujung khayya…
lembut halus terdengar dikatanya
dengan masaku dibukumu
wahai sisa-sisa waktu yang mendera
walaupun akan binasa catat dalam bukumu
aku pernah ada
memenuhi disetiap carik lembaranmu
dengan banyak tema dan makna
tidak peduli hitam bersama putih beradu, berseteru
jangan kau usangkan
hingga tidak tampak lagi sampul dipelindungmu
garis bawahi disetiap judul
tandai semua bait
biarkan masa sesuka hati mengeja kata demi kata
jalan panjangku yang sudah tertempuh
cerita hidupku yang terungkap dan yang tetap tertutup rapat
tidak untuk prasasti apalagi bukti abadi
hanya sekedar menyimpan bukan mengabarkan
‘sepertiga hidupku hanya dihabiskan untuk merindu ’
harap semoga
aku tetap menantimu sampai waktu tak berhitung detik
mendambamu sehangat pagi menerima mentari
merindumu selembut malam menyambut bulan
akankah semua ini hanya menjadi angin lalu
dimana kamu sekarang seolah lenyap ditelan alam
semua apa yang aku pinta
hanya menyibak sementara dipinggiran kulit muka
aku tetap menghiba tegur sapa diwaktu subuh itu
kamu membangunkanmu begitu juga aku
kita saling mengerti, berbagi dan berbenah diri
satu sama lain untuk saling mengingatkan disaat lalai
aku tahu waktu yang bersalah tidak pernah mau disalahkan
begitu cepat dia berjalan tanpa melihat kebelakang
dan dia tidak pernah bisa berputar kembali keawal tujuan
untuk semua itu aku cukupkan rinduku hanya untuk dikenang
sampai nanti tidak ada lagi langit yang menaungi
buntang gemintang yang menghiasi
semoga,…..
min turaabb
kucukupkan pandanganku disesampainya sore tiba
ditutupnya semua pintu dan jendela biar hangat senja tidak terasa
memang langit tidak tampak begitu mendung
hujanpun belum tentu turun
tapi aku tahu kilat cahaya palsu seakan menanti untuk menyambar
seakan berkuasa
menjadi raja
pongah dengan terangnya
kupelankan suara panggilanku diantara semua hasrat penyeruak
dikuburnya semua kenangan dan ingatan biar tidak menderu
memang bulan tidak terlalu terang
langitpun belum dipenuhi bintang
tapi aku tahu gemuruh anak guntur menunggu untuk didengar
seakan murka
menjadi panglima
jengah dengan getarannya
wahai pemanis hayalanku, pewarna indah pandanganku
tidak dengan tiga kata kumemangilmu, tidak juga dengan lambaian
inginku hanya untuk kau segera mengucapkan janji suci itu
atau setidaknya lantangkan bicaramu biar tersadar aku adalah lelaki dungu
duhai embun penekuk dahagaku, hiasan taman-taman surgaku
selaksa dendang tidak membuat hatiku mendayu,
gempita hanya menyempitkan rongga dada
semakin ditentang semakin berdentang
terus ditakuti semakin diikuti
sampai hidup di utus mati
idzaa niltu minkal wudda famaalun khaenun wa kullu alladzi fawqo turoobi turoobun
(robi’atul adawiyah)
….”apabila cintamu telah kudapati (Ya Allah) maka harta benda itu tiada artinya dan segala apa yang ada diatas bumi ini bagaikan debu yang berserakan”….
(Posting Tanpa Judul)
peminta hendak pulangkan sebongkah asa
hari-hari bahagianya menjauh sudah, meronta bak ingin ditangisi
dalam belukar terhimpit sejuta derita musykil
gemetar gamang dengan sambut lembut tangan bidadari
teringat saat dijamunya dengan cawan kuning keemasan dirumah coklat ketua’an
penjaga tebarkan segala pengendali seolah tergenggam rapi, saling menopang
waktu itu, tidak tahu besok pelangi berwana apa
dimalam sepertiga akhir dari pinggiran pondok-pondok kecil temaram menghiasi
terdengar doa-doa abadi pendosa menggemuruh kelangit-langit pemimpi
tanpa tahu Tuhannya akan mengampuni
terus saja caci mustahil itu mengalir
umpatan-umpatan memecah kebekuan seakan serasi disemua lini
kemudian dibuat hina keesokan harinya
biar terlihat dikasihani bukan disegani apalagi dihormati
lalu mengharap derma
menghiba pada semua penista
begitu dan begitu saja seterusnya
~//~
jejak bijak seolah dituangkan dalam relung kelabunya waktu
diselipkannya buah plum dibibir cawan peraknya
bukan penanda hujan dihiasinya lagi payung kecil warna-warni
berteduh dibawah pohon kurma yang berubah menjadi pohon anggur
semua bersuka cita dalam imannya pencipta mahluk
mulut berbusa puja
disusunnya tumpukan tali dikepala seraya jari terus memutar menari
diceramahinya semua pendosa biar terbungkuk
seakan cinta perlu guru……..
dan rindu benci pengganggu
nasehat-nasehat abadi rasul dilontarkan sambil sesekali diciumnya tanda kaki burung jalak
terdengar dentingan bunyi gelasnya beradu
sementara darah merah terus mengalir menempel ditembok-tembok ratapan
apa bedanya dongak kepala dengan tanda hitam dua didahi
dogma-dogma disuapi, dihisap dan dijejali
semua stigma para pendungu dianutnya
risalah yang dibuku-buku
penyempurna, pengembala, penjejak nirwana dan pemuja dewata malu dibuatnya
astaghfirullah aku memang pendosa
tapi tidak pernah sama sekali sempat terlintas di otakku untuk memenggal semua isi kepala para sophia
terlebih memaksakan cahaya seperti pembawa lentera
aku bukan pembelah samudera, nakhoda bahtera, penjagal, penguasa bahasa, juragan niaga
bukan pula penghisap air susu maria
apalagi pemuja kata
~\\~
serigala malam hanya memanggil kawan
hanya dari bau-baunya dia menandai
tidak perlu ditakuti begitu juga burung gagak abu-abu
bunyinya seolah umpatan padahal pelayanan
mengabdi dengan kasih sayang
memang tintanya belum terisi
bejananya belum disiangi
tempurungnya belum disirami
serakah jika hisab nasib begitu cepat dimengerti
jelaganya sedang pelan, terus dipaksa dimampatkan disisi
walaupun mulut terkunci, jiwanya bisa saling berbagi
~||~
AAAH…AKU HANYA MERACAU :(
~)(~
wow wow, what gonna hell happen in here.,.,!?!?
do u burn somethings? smell isn’t good,,,it’s gettin hot,
take in easy….it isn’t what ur think
ok i’m a bad guy and i already to crushin every ‘goodness’ in this f**kin world
ready 2 take my act?!?! even i know the time where i’ll gonna be a looser, coz i’m like a boomer
but i don’t need a white flag n i’v 1 bullet, so do not miss the chance to blow it’s opportunity one shot, face it!!(eminem verses)
(+ ROUUUUUUUP.,.,WHAT ‘R’ U DOING !?! IT’S TIME TO PRAY….)
( - mommy.,……. please gimme a second,,,i still wanna play on my widely grey )
( + HEEEY,,,,,!!!)
( - okey )
~><~
MoU
nihayatul qolbii
khayya ku tak kenan dibawa malam
tersendu sirath yang terbentang bak pedang
makam-makam ditinggal nisan dalam pusara sunyi
menggerakan semua syirah langkah untuk menjauh
aku tahu disana akan terjadi kesengsaraan, kemelaratan dan kehinaan
semakin banyak semakin terlihat fasad
dari segala macam khianatan dan kemunafikan itu jelas
seribu kepahitan akan tampak terbentuk dengan begitu kentara hingga di ujung lidah
murka penguasa bertangan besi tidak setajam ini
mati rasa karena tidak tahu apa maksud dibalik itu
tapi sediaku ada tanganku terbuka
perempuan seribu wajah
kau tenun warna-warni kecerahan
dipintalnya benang-benang keemasan
pinggirannya kau semat renda-renda
payet hijau dengan dasar keungu-ungunan didapati warnanya
tiap corak kau padupadankan
sesekali rubi merah memantulkan cahayanya
seolah tersusun rapi
keanggunan dan keindahan kau terbungkus kain segitiga
lenggok elok kau melangkah
lincah merajut tiap gerak dan suara
semua mata dan telinga terlena dibuatnya
keteduhan kau pancarkan
tak disangka hatimu karang
berdirimu batu pualam
pendirianmu pohon
sikapmu gunung
lembutmu laut
pesonamu angin
tatapmu petir
tidak heran kudapati diri compang-camping di sisi terluar pulau kecil yang terpencil
tidak didunia ini
pe(R)tunjukanmu
layar tidak pernah tersingkap
walaupun aku tahu pertunjukan itu sedang berlangsung
terbukti dari tepuk tangan setiap tamu
lakon apa yang sedang dimainkan aku tidak tahu
sesekali gemuruh riuh menggetarkan panggung
sesekali senyap terasa yang terdengar hanya isak pilu peran utama
diarahkannya semua cahaya biru
diburamkan latar
hingga tercipta penjiwaan susana sedih itu
tersontak semua gembira
aneh memang secepat itukah hidup
oh rupanya yang ditunggu setia sudah ada
datang menjelma bagai pahlawan yang dipuja
diikuti sorak hati para hawa tidak ketinggalan peran utama
dibawanya kegembiraan itu
seketika panggung dibuatnya berwarna
kupu-kupu plastik diterbangkan hilir mudik
suara-suara menggemiricik diselingi nyanyian burung didendangkan
peran pendukung bernyanyi, menari kesana kemari
lampu dipadamkan tanda pertunjukanmu diusaikan
tanpa kutahu peran apa yang diperankan olehku
seringai
semesta tuah berdusta
tertikam buih segala macam cerita
taring tak lagi disegani
ada masanya larik harus diusap dipelipir urat nadi
manusia bisa tertawa
manusia juga bisa menangis
harubirunya rindu tidak usah lagi dibisiki
sia-sia saja
diam saja disitu dengan warna asli yang sudah ada
toh pelangipun tidak usah risau dengan warna yang didapatinya dari pendarnya air hujan
ikhlas memang kata itu
sedikit diucapkan
tapi banyak disangsikan
laku,,